
08 Juni 2009 09:59 wib Nasional
SEBULAN lagi pemilihan presiden akan berlangsung. Gawe demokrasi lima tahunan untuk menentukan pemimpin negara itu sangat ditentukan oleh kuantitas pemilih. Artinya, siapa yang paling banyak mendulang suara dialah pemenangnya.Banyak mesin politik yang bekerja untuk sebuah kemenangan politik capres-cawapres tersebut. Mulai dari mesin partai, lembaga dadakan, hingga instrumen organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Salah satu lembaga yang kerap menjadi "lahan rebutan" adalah Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.Kemanakah suara NU akan disalurkan? Kepada Megawati-Prabowo? SBY-Boediono? Ataukah Jusuf Kalla-Wiranto? Untuk mencari simpati ke NU, macam-macam strategi dilakukan tim pemenangan agar bisa dekat dengan tokoh NU. Ada yang melakukan pendekatan melalui jalur kiai kampung. Ada juga yang datang ke pesantren-pesantren NU atau sekadar bertemu dengan tokoh-tokoh NU berpengaruh seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Ketua PB NU Hasyim Muzadi.Sejak Muhktamar Situbondo tahun 1984, secara organisatoris NU kembali ke khittahnya tahun 1926, yakni organisasi keagamaan yang tidak berafiliasi ke salah satu partai politik atau menjadi partai politik seperti pada Pemilu 1955. NU akhirnya tidak lagi menjadi lembaga politik. Tahun 1998 tokoh NU kemudian membangun wadah politik bernama Partai Kebangkitan Bangsa. PKB diharapkan menjadi penyalur aspirasi politik NU, meskipun partai ini selalu dilanda konflik internal.Pada Pilpres 2009, PKB yang masuk pada jajaran partai papan tengah memutuskan untuk koaliasi partai pendukung Capres SBY-Boediono bersama Partai Demokrat, PAN, dan Partai Persatuan Pembangunan. PKB bahkan menargetkan 10 juta suara untuk kemenangan Capres SBY-Boediono. Sebagian besar dari suara tersebut diharapkan dari lumbung NU seperti "kiai kampung"."Kita sudah garap (kiai kampung). Mereka ini belum tersentuh politik kepentingan," kata Wakil Koordinator Tim Pemenangan SBY-Boediono dari PKB, Syamsuddin Pay, di Jakarta, Minggu (7/6). Selain kiai kampung, tim pemenangan SBY-Boediono dari PKB juga akan mengakomodasi kader-kader NU di seluruh lapisan organisasi badan otonom NU. "Banyak kader-kader NU terutama dari kalangan muda yang punya komitmen untuk memenangkan SBY-Boediono," katanya. SBY adalah NU Syamsuddin juga melihat, hubungan emosional SBY dengan NU sangat dekat. Ia menarik benang merah dari kedua orang tua SBY, Raden Soekotjo dan Siti Habibah, yang dekat dengan kalangan santri di Jawa Timur. SBY sebelum jadi presiden juga sudah dikenal dekat dengan ulama NU di berbagai nusantara. "Jangan salah, SBY itu sendiri termasuk NU," kata Syamsuddin.Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar mengakui tentang upaya PKB untuk mendekati tokoh-tokoh NU dan kader-kadernya untuk meraih simpati sehingga bisa mendukung capres SBY-Boediono. Wakil Ketua DPR itu berharap kantong-kantong penyumbang suara terbesar juga berasal dari basis NU seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Lampung, dan Kalimantan.Apakah itu artinya SBY-Boediono akan mendapat dukungan penuh dari NU? Syamsuddin Pay mengatakan, apa yang dilakukan PKB adalah upaya pendekatan ke tokoh-tokoh NU, bukan secara kelembagaan. Sebab Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi, belakangan ini justru dinilai dekat dengan Jusuf Kalla yang saat ini berpasangan dengan Wiranto sebagai capres untuk merebut posisi presiden ke-7.Kedekatan Hasyim Muzadi dengan Jusuf Kalla, tidak bisa dipungkiri karena secara organisasi Jusuf Kalla salah satu pengurus NU Sulawesi Selatan. Ia menjabat ketua Mustasyar NU Wilayah Sulawesi Selatan. Ayah Jusuf Kalla, Hadji Kalla sejak dulu sudah dikenal luas di kalangan ulama NU khususnya di Sulawesi. Hadji Kalla, sepanjang hidupnya menjadi bendahara NU Sulawesi Selatan.Dari lembaga partai politik, Jusuf Kalla mendapat dukungan dari Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), yang juga sebagian besar tokoh-tokohnya berasal dari tokoh NU. Bahkan kemerosotan suara PKB pada Pemilu 2009 diduga karena pecahnya suara warga NU. Sebagian lari ke PKB sebagian lagi lari ke PKNU.MegaproBagaimana dengan Megawati-Prabowo? Kader-kader muda NU juga sebagian bertebaran di sini. Wakil Sekjen Gerakan Pemuda Ansor (lembaga badan otonom NU), Maskut Candranegara, misalnya, masuk dalam tim pemenangan Megawati-Prabowo.Dia bertugas menggalang pesantren di seluruh Indonesia. Meskipun Maskut masuk ke tim Mega-Prabowo bukan atas nama Ansor, ia memegang jabatan strategis di organisasi pimpinan Saifullah Yusuf tersebut. "Kita menggaet ponpes untuk mendukung Mega-Pro dengan target 2,5 juta suara," kata Maskut yang masuk dalam tim pemenangan Mega-Pro melalui pintu Baitul Muslim Indonesia (Bamusi).Bamusi adalah salah satu organisasi kemasyarakatan yang dibentuk 29 Maret 2007 dan kini berafiliasi dengan Mega-Pro. Bamusi dalam tim pemenangan Mega-Pro bertanggung jawab dalam hal penggalangan ponpes. Bamusi mengklaim sudah menggarap sebanyak 587 ponpes di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang akan mendukung Mega-Pro. Dalam waktu dekat, kata Maskut, tim pemenangan ini akan mendekati sejumlah ponpes di Sumatera dan provinsi lainnya di Indonesia.Menurut Maskut, tidak ada capres yang bisa mengklaim bahwa dia mendapat dukungan dari NU karena kader-kader NU juga bertebaran di tiga capres tersebut. "Saya sendiri sebagai kader NU berada di kubuh Mega-Prabowo," katanya.
Bagaimana dengan NU? Ketua Lembaga Dakwah NU KH H AN Nuril Huda mengatakan, NU secara organisatoris tidak pernah memutuskan untuk berafiliasi dengan salah satu capres-cawapres. "NU itu bukan lembaga politik. NU tidak berpolitik, tetapi kalau ada orang-orang NU yang berpolitik itu secara individu bukan atas nama lembaga," tandasnya.
( Ant / CN05 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar