
Jakarta,(Ansor Online)-Ansor memberikan apresiasi kepada Maarif Institute yang telah mendorong munculnya pemimpin-pemimpin lokal sejati yang menunjukkan kontribusi konkretnya kepada masyarata. “Ya, tentu kita salut sama Maarif Institute yang memberikan penghargaan kepada pemimpin lokal, dan ini menjadi pendorong munculnya pemimpin lokal,”
Demikian dikatakan Wakil Sekjen GP Ansor, Maskut Chandranegara kepada gp-ansor.org di Jakarta, 11 Juni 2010.
Menurutnya, langkah Maarif ini perlu dicontoh lembaga lainnya, karena sangat positif terhadap dinamika pendidikan dan demokrasi. “Mereka tak merengek minta dana aspirasi buat pembangunan desanya, tapi melakukan kerja nyata buat masyarakat,”tambahnya.
Dikatakan Maskut, malam itu Maarif Award kembali diberikan kepada dua pemimpin lokal yang menunjukkan kerja nyata dan menjadi inspirasi bagi komunitasnya, yaitu Habib Said Ali al Habsy dan Romo V Kirjito. Keduanya dinilai menjadi pendorong demokratisasi dan memperjuangkan keadilan, kesejahteraan, serta kemanusiaan.
Sementara itu, Pendiri Maarif Institute, Ahmad Syafii Ma’arif, dalam sambutannya seusai penyerahan penghargaan itu di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (10/6) malam, mengatakan, kerja nyata yang ditunjukkan para pemimpin lokal itu menjadi nyala lilin-lilin kecil yang memberikan harapan bagi kehampaan dalam proses kepemimpinan Indonesia selama ini. ”Negeri ini bagaikan kampung tak bertuan. Ada pemimpin dan kaum elitenya, tapi tak dirasakan (keberadaannya). Semua mencari muka, tak ada (persoalan) yang tuntas diselesaikan,” Buya lagi.
Maarif Award 2010 ini diberikan kepada Habib Said Ali al Habsy, penggerak ekonomi mikro lintas iman, pengadvokasi pemulung dan anak-anak punk di Martapura dan Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Penghargaan juga diberikan kepada Romo Vincentius Kirjito, pastor di lereng Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah, yang peduli menjaga lingkungan dan budaya serta kemanusiaan.
Menurut Habib Ali, masyarakat masih memiliki potensi besar untuk mandiri. Hal itu dibuktikan oleh munculnya lembaga-lembaga yang dikelola masyarakat miskin. ”Jika negeri ini menghargai masyarakat miskin untuk mengatasi kemiskinannya, negeri ini tak perlu berutang kepada bangsa asing,” katanya.
Romo Kirjito mengajak masyarakat untuk menghargai desa dan segala sumber dayanya. Selama ini potensi desa dikeruk untuk pembangunan kota. Namun, perlakuan masyarakat justru mengidentikkan desa dengan konotasi negatif.
Syafii menambahkan, Habib Ali dan Kirjito adalah pemimpin lokal yang bekerja tanpa memandang agama.
editor : eko
sumber: -Gp.ansor.org.id.
post :Rizqi Prameswara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar